Cinta
Berbicara tentang cinta seakan tidak ada habisnya. Banyak yang mengelu-elukannya atau setidaknya menganggapnya sesuatu yang sangat agung. Aku ingin mencoba membahasnya. Tapi yang mudah saja bagiku, tidak usah terlalu rumit. Cinta yang kumaksudkan disini adalah cinta antara dua manusia. Adapun mengenai yang selainnya, biarlah orang yang lebih berkompeten yang membahasnya, aku tahu tentang kemampuan diriku.
Sebenarnya, definisi cinta itu sangat sederhana. Cinta adalah harapan. Tidak ada cinta yang tanpa harapan. Ketertarikan seseorang terhadap lawan jenis belum tentu dinamakan cinta. Cinta itu akan bersemi ketika muncul harapan untuk memilikinya.
Harapan adalah salah satu kekuatan yang diberikan kepada manusia. Dengan harapan, dia bisa hidup, dengan harapan dia membesarkan buah hatinya. Ia adalah sebuah pondasi yang penting. Setiap manusia pasti berharap, sudah menjadi Sunatullah seperti itu.
Nah, harapan untuk bersama dengan orang yang dicintai sangatlah besar bagi manusia. Sudah menjadi sebuah kebutuhan pokok, dan memang sudah dipersiapkan agar anak keturunan kita tetap lestari. Lelaki membutuhkan perempuan, perempuan membutuhkan laki-laki. Jadi, cinta memang sebuah hal agung yang diberikan kepada kita.
Dengan bekal cinta itulah timbul ketentraman, keindahan dan kenikmatan. Cinta memang dibuat indah dimata manusia. Sehingga manusia tidak lekas bosan dan menyenangi kehadirannya. Setidaknya secara fitrah, tidak ada yang dicela tentang cinta ini.
Tapi, segala sesuatu jika berlebihan menjadi tercela. Sesuatu yang berlebihan menyebabkan berbagai macam penyimpangan dan pelanggaran. Termasuk dalam hal ini cinta. Karena cinta banyak yang bunuh diri. Karena cinta orang rela menggadaikan kehormatannya. Banyak sekali akibat buruk yang diakibatkan oleh cinta. Cukuplah menjadi contoh kisah-kisah tentang hal tersebut. Belajarlah dengan tanpa harus terjun di dalamnya.
Hati yang penuh harap kepada sesuatu yang tidak pantas untuk memberi harapan atau sesuatu yang tidak bersedia memberi harapan memberikan kepedihan yang menyakitkan. Seperti orang yang mencoba meraih sesuatu yang tidak kuasa ia raih. Tentunya hal tersebut akan menguras pikiran, waktu dan tenaga. Atau bahkan menimbulkan sebuah pelanggaran terhadap aturan dan kehormatan orang lain.
Oleh sebab itu, tidaklah ulama menyebutkan orang yang di mabuk cinta, kecuali celaan. Orang yang dimabuk cinta sebenarnya adalah tawanan yang susah untuk melarikan diri. Sekali dia menceburkan diri ke dalamnya, susah sekali untuk keluar. Orang yang berakal adalah orang yang menjauhkan diri dari sesuatu yang membinasakan dirinya. Bersabar untuk mencegah sesuatu lebih ringan daridapada bersabar menanggung akibatnya.
Sesuatu yang dilarang pasti ada ganti yang lebih baik. Syariat melarang kita meminum khamr atau alkohol, tapi memperbolehkan untuk meminum sari dari buah-buahan. Tentu saja cinta seperti itu. Kita tidak seperti binatang yang bebas mengumbar nafsunya kepada siapapun yang ia suka. Kita dibatasi olah aturan-aturan. Justru karena itulah kita menjadi lebih mulia daripada binatang. Sekarang yang jadi pilihan, apakah kita mau menjadi mulia dengan menetapi aturan-aturan itu, atau ingin seperti binatang karena melanggarnya.
Inilah sedikit perenunganku mengenai cinta. Mungkin tidak romantis dan sedikit menusuk. Apabila ada yang merasa tersinggung atau tersindir, aku meminta kerelaannya untuk memberikan maaf.
1 Comment »
Filed under: Refleksi
