Memulai Kembali dari Awal

Pernahkah Anda mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya dan ketika hampir selesai, ada sesuatu yang menyebabkan pekerjaan tersebut hancur tak berbekas, dan Anda harus memulainya kembali dari awal? Saya pernah, contohnya pekerjaan saya beberapa waktu yang lalu. Saat mengetik pengantar untuk bisnis kecil saya. Saya menghabiskan waktu yang lumayan untuk mengetiknya di program Microsoft word, tapi tanpa disangka, saat pekerjaan hampir selesai, virus menyerang dan pekerjaan saya hilang tak berbekas. Dan saya harus memulainya lagi, dari nol.

Tapi anehnya, hasil pekerjaan setelah saya memulainya kembali ternyata lebih baik dari pekerjaan yang telah hilang. Mungkin karena banyaknya penambahan hal baru (Anda bisa membacanya disini). Ini mengingatkan saya pada Victor Frankl, seorang neurolog dan psikiater ternama. Pada saat holocaust terhadap orang Yahudi di Austria, kedua orang tua dan istrinya tewas. Bukan itu saja, manuskrip tulisannya-sesuatu yang ia anggap sangat berharga-hilang entah kemana.

Walaupun begitu, ternyata hal tersebut tidak menghancurkan hidupnya. Selama dalam masa tahanan ia menulis dalam lembaran-lembaran kumal tentang tekanan yang dialami para tahanan dan dihubungkan dengan teori yang pernah ia kembangkan didalam manuskripnya yang telah hilang. Kelak, lembaran-lembaran itu membentuk sebuah buku yang sangat terkenal di abad ke 20, Mans Search for Meaning.

Mungkin kalau dia tidak memulai kembali dari awal untuk menulis buku itu, ceritanya akan berbeda. Tapi, sejarah berkata lain, kemauan yang kuat untuk memulai kembali menuliskan pemikirannya, membuat bukunya dikenal orang. Saya ragu kalau misalnya manuskripnya yang hilang itu diterbitkan akan sama terkenalnya seperti buku Mans Search For Meaning. Read more…

Berterimakasih

Untuk orang yang benar-benar berjiwa tulus, ketika melakukan sesuatu tidak mengharapkan balasan apapun, kecuali dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak mengharapkan pujian ataupun ucapan terima kasih. Akan tetapi adab kita ketika mendapatkan bantuan dari orang lain (dalam konteks luas) adalah dengan berterima kasih, dengan ucapan lisan khususnya.

Kita tidak perlu melihat, motif apa dibaliknya. Misalnya, seorang resepsionis yang melayani Anda karena memang begitu tugasnya, dan dia digaji untuk itu. Bagaimanapun juga, ada kebaikan atau bahkan mungkin kemudahan yang ia berikan untuk kita.

Sebagai makhluk sosial, manusia saling membutuhkan. Ada saatnya kita harus membantu orang lain untuk memenuhi hajatnya. Tapi ada saatnya kita memerlukan orang lain untuk urusan kita. Nah, karena setiap orang setidaknya mempunyai sedikit jasa kepada orang yang lain, seharusnya kita menghargai jasa itu. Salah satu cara untuk menghargai adalah mengucapkan terima kasih. Read more…