Sikap Tegas

Beberapa kali isteri saya mengeluhkan sikap tetangga baru kami. Ya, setelah Pak Erwin mengajak pindah keluarganya, rumahnya dikontrak oleh sepasang kakek nenek dengan dua orang anaknya. Di usia yang relatif sepuh, keduanya belum memiliki rumah dan anak-anak mereka belum ada yang menikah (Sebenarnya sudah satu yang menikah, tapi cerai dan tinggal bersama orangtuanya). Untuk biaya hidup, mereka bergantung kepada anaknya yang satu lagi yang bekerja sebagai Satpam di luar kota, serta dari saudara si kakek.

Sebagai tetangga, kami penghuni komplek berusaha sebaik-baiknya memperlakukan mereka. Misalnya, terkadang mengirimi mereka makanan, mengajak ngariung (kumpul-kumpul) bila ada acara, dan sebisa mungkin menghutangi mereka apabila meminjam uang. Termasuk keluarga saya, terkadang ketika bepergian kami mengajak si nenek untuk menggendong anak bungsu saya, sedangkan isteri mengasuh anak kedua.

Sebenarnya tidak ada masalah antara kami dengan mereka. Tapi ada satu hal yang sangat tidak kami sukai. Yaitu kebiasaan si nenek yang tidak sopan. Seringkali ketika dia ingin meminjam uang, dia masuk saja kerumah tanpa permisi. Terkadang dia membuka tirai jendela kamar, atau bahkan masuk ke kamar kami, ketika saya, isteri dan anak-anak sedang disitu. Bahkan ketika isteri sedang menanggalkan jilbabnya. Ini juga dia lakukan kepada tetangga yang lain.

Tentu saja kami gerah dengan hal tersebut. Kami sudah mentolelir, tapi dia tidak berubah. Toleransi mempunyai batas. Ketika batas tersebut dilanggar, maka toleransi harus bergeser ke sikap tegas, bahkan kalau diperlukan kita boleh bersikap kasar, tapi dengan memperhatikan prinsip-prinsip agama. Tidak setiap manusia bisa diperlakukan dengan sikap toleran. Ada beberapa manusia yang memang memerlukan sikap tegas, agar bersikap lebih baik. (Untuk lebih lanjut, silahkan baca tulisan Dalam Bergaul).

Namun terkadang, karena sikap lemah atau karena takut kepada penilaian orang lain, kita menafikkan hal tersebut. Padahal sikap tegas bisa dilakukan bahkan oleh orang yang berkepribadian sangat lemah. Kenapa? Karena sikap tegas, tidak harus keras ataupun kasar, walaupun sikap keras dan kasar merupakan salah satu ciri ketegasan. Sikap tegas bisa dilakukan bahkan dengan kelembutan.

Ada yang berkata, bahwa ketegasan adalah seperti besi yang dibungkus dengan kain yang lembut. Selembut apapun sebuah kain, ketika didalamnya ada besi, tidak ada seorangpun yang mau memukulnya. Artinya sikap tegas akan memperlihatkan kepada orang lain, bahwa kita memiliki batasan yang tidak boleh mereka langgar. Nah, karena kita bersikap tegas, orang lain akan berpikir ulang ketika akan melanggar batasan itu. Berbeda dengan orang yang tidak tegas, orang lain akan seenaknya melanggar batasan tersebut.

Kembali ke nenek tersebut. Jujur saja, saya dengan isteri segan menegur kelakuannya. Faktor usia yang menyebabkan. Tapi kami mempunyai cara yang lain, yaitu dengan mengambil jarak dan menunjukkan sikap bahwa kita tidak menyukai kelakuannya, tapi dengan diam. (Menunjukkan ketidaksukaan adalah salah satu cara yang memperlihatkan ketegasan kita). Ketika bepergian, yang biasanya mengajak si nenek, kami ganti dengan mengajak pembantu. Akan tetapi dalam berhubungan dengannya kami usahakan tetap seperti biasa saja.

Walaupun sepertinya dia tidak banyak berubah, sikapnya menjadi sedikit canggung. Tidak terlalu berani, seperti sebelumnya. Tidak apa-apa, minimal hal tersebut menunjukkan kepada kami, bahwa sebuah ketegasan, walaupun secara lembut tetap ada pengaruhnya. Mungkin tindakan ini kurang tepat, karena kami masih belajar. Walaupun begitu, semoga saja kami lebih baik dari hari ke hari.

Hmm, kalau ada dari Anda yang merasa blog ini berguna, atau ingin berbagi boleh Anda sms ke 087718355983….:D


Jadilah orang pertama yang menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?


Leave a Reply