Menambah Masalah atau Mencari Solusi

2 Jul 2015

Setiap organisasi pasti memiliki tujuan. Seperti mencari keuntungan, melayani masyarakat dan yang lainnya. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan seperangkat aturan dan sekelompok orang yang akan melaksanakannya. Oleh sebab itu, diperlukan kerjasama dan iktikad baik dari masing-masing anggota organisasi tersebut. Jangan sampai ada ketidakpedulian, ketidakkompakan atau kesalahan manajemen yang mengakibatkan tidak tercapainya tujuan.

Namun pada kenyataannya, banyak sekali organisasi yang gagal dalam mencapai tujuan. Banyak sekali perusahaan yang hancur, instansi pemerintah yang tidak melayani masyarakat sebagaimana mestinya, organisasi nirlaba yang tutup dan masih banyak lagi. Pastinya ada sesuatu yang tidak beres dan hanya dengan diagnosa yang tepatlah kita akan mengetahui penyebabnya. Dan hanya orang yang berpengalaman dan berkompetenlah yang mampu untuk mendiagnosanya.

Nah, setelah diketahui penyebabnya, kita bisa mencari jawaban. Yaitu jawaban berupa solusi atas permasalahan tersebut. Tentu saja solusi yang tepat-minimal yang hampir tepat-. Selain itu, hanya akan menambah masalah. Saya teringat dengan salah satu kota kecil di pulau Jawa yang terkenal dengan kemacetan lalu lintasnya. Hampir setiap hari terjadi kemacetan lalu lintas yang parah. Bisa dimaklumi, sebab pertambahan kepemilikian kendaraan bermotor tidak diimbangi dengan perluasan jalan raya. Entah apa solusi yang ditawarkan oleh pemda setempat, tetapi ada sesuatu yang mengusik perhatian dan menuai banyak komentar negatif: Pemda setempat membuat jalur khusus untuk sepeda di jalan yang sudah ada, tanpa ada pelebaran jalan.

Maaf, saya tidak bermaksud mengkritik pemda setempat. Ini hanya sebagai contoh kasus betapa banyak anggota organisasi yang melenceng dari tujuan sebenarnya, ingin mencari solusi atas permasalahan akan tetapi malah menambah masalah. Penyebabnya, karena mereka malas untuk mendiagnosis penyebab permasalahan yang sebenarnya. Atau mungkin mereka hanya berpura-pura atau menutup mata??

Padahal bisa saja, karena kesalahan diagnosa tersebut bisa berakibat fatal. Seperti penyakit, agar penyakit tersebut bisa disembuhkan, maka kita harus mencari orang yang tepat yaitu dokter atau tabib. Sang dokter akan memeriksa tubuh kita, dan menemukan penyakit apa yang bersarang. Setelah itu, ia memberikan penawar, yaitu obat yang tepat. Apabila kita mencari orang yang salah atau dokter yang kurang kompeten, maka akhirnya akan sangat berbahaya. Saya pernah punya pengalaman seperti ini. Anak saya pernah mendapatkan vonis Demam Berdarah dari seorang dokter muda, padahal setelah periksa ke dokter lain yang lebih senior anak saya hanya sakit sariawan.

Bayangkan betapa berbahayanya apabila anak saya terus berobat di dokter tersebut! Lebih berbahaya lagi apabila orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang kompeten seperti dokter muda tersebut yang diberi amanah untuk mendiagnosis dan memberi solusi atas permasalahan bangsa!! Oleh sebab itu, diperlukan kehati-hatian dan sikap tidak tergesa-gesa dalam mendiagnosis permasalahan agar tujuan organisasi dapat tercapai.

Pendiagnosis

Ada pertanyaan yang terngiang di kepala saya, yaitu bagaimana menemukan orang berpengalaman dan berkompeten yang bisa mendiagnosis permasalahan. Ternyata memang harus diperinci. Sebab, orang yang berpengalaman belum tentu berkompeten dan orang yang berkompeten belum tentu berpengalaman. Ini yang menjadi masalah di banyak organisasi. Banyak sekali organisasi memilih pimpinan atau manajer hanya berdasarkan tingkat kompetensi diatas kertas, bukan di lapangan. Maksudnya seperti ini, banyak sekali organisasi mengangkat pemimpin hanya berdasarkan tingkat pendidikan dan prestasi pendidikan.

Padahal menurut Peter Drucker, penemu ilmu Manajemen, “Tugas terpenting pemimpin organisasi adalah mengantisipasi krisis. Mungkin bukan menghindari, tapi mengantisipasinya. Menunggu hingga krisis menghantam adalah kesalahan besar.” Apa yang diperlukan untuk mengantisipasi krisis? Pengalaman dan kompetensi yang bukan hanya diatas kertas. Maaf saya tidak mendiskreditkan pendidikan. Namun memang, selain pendidikan diperlukan hal lain untuk menjadi pemimpin atau manajer.

Kembali ke pembahasan, untuk menemukan orang berpengalaman dan berkompeten yang bisa mendiagnosis permasalahan kuncinya adalah mengetahui track record orang-orang yang akan kita pilih. Bagaimana kompetensinya dan bagaimana pengalamannya. Memang tidak sesederhana kelihatannya. Akan tetapi dengan kesungguhan dan kehati-hatian kita bisa menemukannya.

Sedikitkan, Jangan Perbanyak

Yang menjadi masalah kedua setelah kesalahan diagnosis adalah kurangnya fokus. Di dalam organisasi yang terlalu besar atau terlalu birokratif, sulit sekali membuat para anggotanya hanya fokus ke tujuan. Terlalu banyak cabang akan membuat menjauh dari tujuan. Oleh sebab itu, ketika kembali ke Apple Steve Jobs menghapus banyak sekali lini produk (yang sampai ratusan jumlahnya menjadi hanya beberapa). Dengan fokus kepada beberapa produk, Steve Jobs merubah Apple dari perusahaan yang hampir bangkrut menjadi perusahaan yang menghasilkan penjualan milyaran dolar.

Prinsip sedikitkan, jangan perbanyak bisa kita terapkan dalam manajemen organisasi yang lain. Tamak tujuan adalah kesalahan umum banyak organisasi. Ingin membidik pasar menengah keatas tetapi ingin juga membidik pasar menengah kebawah. Ingin mengatasi kemacetan tapi ingin juga mempercantik kota. Dalam manajemen pekerjaan juga bisa kita terapkan. Ketika organisasi menetapkan sebuah tujuan, seharusnya setiap divisi atau unit kerja menyesuaikan jenis pekerjaan yang akan membantu oranisasi dalam mencapai tujuan.

Misalnya, tujuan organisasi adalah penjualan dan menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya untuk organisasi. Maka setiap divisi harus bertanggung jawab memberikan pekerjaan yang hanya untuk membantu tercapainya tujuan organisasi. Hanya itu. Bukan yang lain. Tidak perlu misalnya, satu divisi membuat survey-survey internal atau program komputer yang wajib dipakai anggota sebagai standar penilaian. Organisasi tidak memerlukan itu. Hal tersebut hanya akan menambah masalah, bukan mendapatkan solusi. Prinsipnya semakin sedikit hal yang harus dilakukan, semakin fokuslah mendekatkan organisasi pada tujuan.

Kurangnya Koordinasi dan Kerjasama

Selain kurangnya fokus, hal yang menghambat organisasi mencapai tujuan adalah kurangnya koordinasi dan kerjasama antar elemen. Misalnya dalam membuat kebijakan. Sebelum kebijakan dibuat seorang pemimpin atau manajer harus mengetahui keadaan di lapangan. Jangan sampai membuat kebijakan hanya sepihak, yang memberatkan anggota organisasi di lapangan. Penentuan target yang tidak realistis juga akibat tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya di lapangan.

Sebab, kenyataan di lapangan terkadang berbeda sangat jauh dengan yang diatas kertas. Saya sangat menyayangkan apabila ada pimpinan yang sifatnya tidak mau tahu yang terus memaksakan kehendaknya berdasarkan targetnya yang tidak realistis. Kurangnya koordinasi dan kerjasama juga sering terjadi pada level selain pimpinan. Ini mungkin dikarenakan karena terlalu banyaknya hal yang harus dilakukan atau penentuan target yang sifatnya individual.

Banyaknya hal yang harus dilakukan bisa diatasi dengan prinsip sedikitkan, jangan perbanyak sebagaimana tulisan sebelumnya. Nah tentang target yang sifatnya individual kita akan sedikit membahasnya. Penentuan target secara individual sebenarnya bagus, membuat anggota perindividu di organisasi lebih produktif. Akan tetapi kekurangannya membuat anggota perindividu menjadi individual yang menjadikan kurangnya koordinasi dan kerjasama. Mengenai ini saya ada sedikit ide mengenainya, terinspirasi dari toko ritel Apple. Bagaimana kalau target individu kita hapus dan membuat suatu sistem yang membuat perindividu bekerjasama untuk mencapai target.

Kurangnya koordinasi dan kerjasama juga disebabkan karena kurangnya kepedulian. Ini bisa diatasi dengan prinsip seandainya yaitu pengandaian akan hal buruk apabila tidak tercapai tujuan. Semacam tekanan agar anggota organisasi lebih peduli dan mau bekerja sama untuk mencapai tujuan.

Penutup

Demikianlah tulisan singkat saya. Tulisan yang tidak ilmiah, hanya buah pendapat dari saya. Tapi semoga ada manfaatnya bagi organisasi Anda agar tercapai tujuannya. Tak lupa saya ucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa bagi kaum Muslimin. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi sarana untuk mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Taala. Amin.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post