Tentang Nilai

8 Dec 2015

Mengapa kita lebih menghargai bolpoint seharga tiga ratus ribu daripada handphone dengan harga yang sama? Atau mengapa satu tas kulit bermerk hermes berharga ribuan kali lipat daripada tas kulit dari garut, padahal dari segi kualitas mungkin hampir sama atau mendekati sama?

Semua terletak pada nilai.

Kita tahu bahwa selain mahluk rasional, manusia memiliki sisi sisi irasional. Manusia, terkadang menimbang sesuatu tidak berdasarkan akal sehat, akan tetapi lebih kepada perasaan. Nilai sebuah benda, ditentukan bukan karena keurgenannya, kelangkaannya atau kesulitan pembuatannya. Tapi nilai suatu benda diukur oleh keberadaan si benda itu sendiri.

Maksudnya seperti ini. Bolpoint mahal lebih dihargai, karena memang statusnya sebagai bolpoint mahal. Ketika suatu saat harga bolpoint itu jatuh, tetap saja penghargaan kepada bolpoint mahal lebih daripada handphone tiga ratus ribuan.

Tas hermes, harganya mahal dikarenakan merknya hermes. Terlepas dari berbagai kelebihan yang dimiliki. Lain halnya dengan tas lain, mungkin dengan merk opas atau kasmit.

Ini soal nilai. Soal perasaan. Sulit sekali ditembus dengan sejuta logika. Anda mungkin akan mendapati orang yang tidak bisa menjawab alasan dia membeli tas hermes seharga sembilan ratus jutaan. Iya mungkin untuk dipamerkan, tapi perlu alasan logis membeli barang yang super mahal seperti itu kalau hanya untuk dipamerkan.

Yang pastinya dia rela merogoh kantong sangat dalam, dikarenakan merk tas tersebut hermes. Tidak lebih. Apakah ini tercela? Saya tidak berani menyimpulkan. Barangkali si pembeli tas hermes ini orang yang dermawan. Yang mendonasikan hartanya di berbagai tempat. Nah, untuk menikmati hasil dari jerih payahnya selama bertahun tahun dia membeli tas hermes. Tidak masalah khan kalau kasusnya seperti ini?

Yang menjadi masalah, ketika nilai suatu benda menjadi tujuan utama. Mengesampingkan hal yang lebih penting. Membeli handphone model terbaru tetapi tidak memiliki beras dirumah. Mengkredit rumah mewah walaupun gajinya pas pasan. Dan lain lain. Tentunya ini termasuk hal tercela. Mengejar nilai itu harus sesuai kemampuan.

Padahal, kalau kita sedikit kreatif, kenapa tidak kita memberi sendiri nilai hal yang kita miliki? Kita beri nilai rumah kecil sederhana kita sebagai rumah terindah dan ternyaman di bumi. Kita beri nilai motor tua kita sebagai motor paling tangguh dan setia.

Intinya, nilai itu tidak harus dibuat orang lain. Tidak harus dikukuhkan orang penting. Kita pun bisa mengukuhkannya.

Karena ini soal perasaan.


TAGS nilai hermes


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post