Memanfaatkan Apa yang Ada

11 Dec 2015

Saya ingin bercerita tentang seseorang bernama matthew joseph thaddeus stepanek alias mattie. Ia adalah penderita penyakit cacat serius bernama dysautonomic mitochondrial myopati. Penyakit cacatnya ini mengganggu fungsi pernapasan, detak jantung, tekanan darah dan suhu tubuh.

Karena itu, ia membutuhkan tabung pernapasan dan ventilator, dimana tabung dimasukkan kedalam jantung bagian atas untuk membantu kerja obat obatan dan cairan. Praktis hidup mattie berada di atas kursi roda.

Akan tetapi, itu tidak mematahkan semangatnya. Mattie adalah pengarang dan penulis puisi terlaris. Kelima seri buku puisi karyanya, heartsongs masuk kedalam new york times best seller. Selain itu, ia adalah pembicara yang memenangkan penghargaan, advokat untuk penyandang cacat dan juru perdamaian. Sebelum menjalani kehidupan diatas kursi roda, ia mendapatkan sabuk hitam peringkat pertama dalam seni beladiri hapkido. Ia meninggal beberapa minggu sebelum ulang tahunnya yang ke 14.

Mattie adalah manusia biasa. Sama seperti kita. Yang membedakan antara mattie dengan kebanyakan orang adalah kemampuannya memanfaatkan apa yang ada. Hidup terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Pengalaman pahit, kegagalan, kebangkrutan, penyakit dan lain lain terkadang membuat kita terjatuh dan tidak berdaya. Tapi selalu ada titik- walaupun kecil- didalam ketidakberdayaan. Selalu ada titik walaupun berada dalam kondisi yang paling bawah sekalipun.

Titik itu bernama harapan dan kemampuan untuk memanfaatkan apa yang ada. Setiap manusia sebenarnya memiliki ini. Akan tetapi tidak banyak manusia yang menggunakannya ketika berada dalam titik nadir kehidupannya. Dengan keadaannya, mattie pasti berada dalam titik nadir, yang kemungkinan akan menyebabkan putus asa bagi kebanyakan orang.

Tapi mattie mempunyai harapan dan memanfaatkan kemampuannya menulis puisi, menolong orang dan berbicara dengan maksimal dan sebaik baiknya. Dan mungkin hanya tinggal itu saja kemampuannya. Dibandingkan dengan kita, potensi kemampuan kita mungkin puluhan atau ratusan kali lebih banyak dari mattie.

Akan tetapi adakah diantara kita yang buku karangannya masuk kedalam new york times best seller? Apakah diantara kita ada yang menjadi pembicara yang memenangkan penghargaan? Apakah diantara kita ada yang menjadi advokat untuk penyandang cacat? Seharusnya kita lebih dari itu.

Ya, seharusnya kita lebih dari itu. Tapi jujur saja, saya sendiri malu. Tidak ada satupun prestasi yang dapat saya banggakan, walaupun dalam kemampuan mungkin lebih dari mattie. Dan mungkin anda juga. Selayaknya kita berintropeksi, mengapa hal ini terjadi.

Menurut saya penyebabnya adalah mudah berputus asa dan tidak mau menjadi diri sendiri. Putus asa menyebabkan hilangnya harapan dan tidak mau menjadi diri sendiri dengan keunikannya menyebabkan terhambatnya potensi atau kurang maksimalnya perkembangan potensi.

Cobalah tengok negara singapura. Dari banyak segi, negara ini ‘bukan apa, bukan siapa siapa’. Secara geografis kecil, tidak cocok untuk pertanian, bahkan air minumpun harus mengimpor dari johor, malaysia. Hanya dua yang singapura miliki: letak yang strategis dan penduduk yang ulet bekerja. Singapura mampu memanfaatkan kedua hal itu sebaik baiknya. Hasilnya, singapura adalah negara termaju di asia tenggara.

Bandingkan dengan negara kita. Negara kita memiliki segalanya. Kekayaan alam, letak yang strategis, kekayaan sumber daya manusia dan masih banyak lagi. Kenapa kita kalah maju dengan singapura? Karena kita mudah berputus asa dan tidak menjadi diri sendiri.

Untuk itu diperlukan pembentukan paradigma secara massal. Bahwa bangsa kita jangan menjadi bangsa yang mudah menyerah dan harus mampu memanfaatkan apa yang ada sebaik baiknya. Ini harus menjadi tugas pemerintah dan segenap elemen bangsa. Semoga dengan itu, kita mendapatkan hasil yang terbaik.


TAGS motivasi


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post