Tentang Prestasi

14 Jan 2016

Saya paling sebal kalau membaca berita semacam ini: si a, presiden negara tertentu pernah tinggal di indonesia (dengan dibangga banggakan tentunya), si b pesohor internasional mempunyai darah indonesia atau si c pengusaha internasional, bapaknya pernah pacaran dengan orang indonesia.

Alasannya, apa manfaatnya membanggakan prestasi orang lain hanya karena ada sedikit sangkut paut dengan negara kita. Kalau hanya seperti itu, setiap negara, bahkan yang paling miskin sekalipun, mempunyai kavling untuk membanggakan diri.

Prestasi indonesia adalah nilai tambah yang diberikan murni putra putri indonesia kepada dunia. Hermawan kartajaya adalah prestasi indonesia. Doktor warsito adalah prestasi indonesia. Nelson tansu adalah prestasi indonesia. Sampai si kecil musa yang hafizh quran adalah prestasi indonesia.

Karena mereka adalah benar benar orang indonesia. Bukan hanya embel embel pernah tinggal di indonesia atau bapaknya pernah pacaran dengan wanita indonesia. Bukan. Mereka adalah orang orang terbaik di bidangnya yang mampu menunjukkan kepada dunia bahwa indonesia bisa. Tidak kalah dengan negara lain.

Memang seharusnya begitu. Bangsa indonesia adalah bangsa yang besar. Mempunyai penduduk yang sanggup bekerja keras. Mempunyai kekayaan alam yang luar biasa. Dan masih banyak lagi. Tapi ada satu kekurangan. Bangsa kita kurang percaya diri, inferior terutama kepada bangsa eropa.

Padahal mereka sama saja seperti kita. Tidak semua orang eropa pintar dan ulet. Banyak juga dari mereka yang malas dan bodoh. Masalah ulet dan pintar, banyak orang dari bangsa kita yang lebih baik dari bangsa eropa. Lantas mengapa kita merasa lebih rendah dari mereka?

Yang menjadi masalah, perasaan rendah diri ini dibarengi sikap bangga apabila kita memiliki hal yang berbau kebarat baratan. Seperti ucapan yang sok ke inggris inggrisan atau pakaian yang mengikuti cara berpakaian mereka.

Sikap bangga terhadap prestasi orang lain juga menyentuh aspek lain. Kita lihat, banyak orang yang petentang petenteng dikarenakan ada saudaranya yang menjadi pejabat. Atau malah hanya karena mengenal tokoh tertentu.

Yang menjadi pertanyaan, buat apa hal seperti itu? Mempunyai saudara pejabat atau kenal baik dengan tokoh tertentu dengan orang yang tidak seperti itu, pada hakikatnya sama saja. Toh yang berprestasi adalah orang lain, bukan kita.

Yang paling penting adalah bagaimana sikap kita. Sikap baik kita, penghormatan kita kepada orang lain dan ketekunan kita mampu menutupi apabila kita memang tidak mempunyai prestasi yang dibanggakan. Tidak usah membawa nama dan prestasi orang lain. Jadilah diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya.


TAGS prestasi


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post