• 4

    Sep

    Rasa Bersalah

    Entah orang lain seperti itu atau tidak, saat itu saya gelisah sekali. Saya parkirkan kendaraan saya di pinggir jalan yang sempit tapi ramai- yang memang bukan tempat untuk parkir-. Hal ini saya lakukan bukannya tanpa alasan. Pasar tempat istri saya berbelanja tidak menyediakan parkir mobil. Disamping itu, selain saya, banyak juga yang memarkirkan mobilnya di depan mobil saya. Akibatnya, jalan yang macet semakin bertambah macet. Tapi anehnya, tidak ada seorangpun yang menegur kami. Pikiran saya mengatakan, “Buat apa kamu gelisah, toh tidak terjadi apa-apa. Tidak ada manfaatnya kegelisahanmu itu.” Ada semacam pertentangan dalam pikiran saya, benarkah seperti itu, apakah kegelisahan saya tidak ada manfaatnya? Inilah yang menantang saya untuk merenungkannya-sesuai kemampuan saya
  • 24

    May

    Meminta Maaf

    Sebelumnya saya meminta maaf, mungkin ini tulisan terakhir saya di blog ini. Beberapa bulan kedepan-sampai waktu yang tidak ditentukan- saya akan absen menulis. Maafkan, saya belum sempat menulis Rumah Sebagai Tempat Pendidikan. Saya sudah berniat, tapi belum ada waktu untuk mewujudkannya. Doakan saja, saya akan kembali dengan membawa ide-ide yang lebih segar. Ada beberapa alasan yang menyebabkannya. Ada yang perlu saya ceritakan dan ada yang saya rahasiakan. Intinya, saya ingin meminta maaf kepada diri saya sendiri. Saya berpendapat bahwa meminta maaf bukan hanya kepada orang lain saja. Banyak hal yang perlu kita untuk meminta maaf. Tentu saja, yang paling berhak untuk kita selalu meminta maaf atau memohon ampun adalah Allah subhanahu wa Taala. Kemudian setelah itu yang lain. Memohon ma
  • 5

    Jan

    Belajar Untuk Lebih Dewasa

    Setidaknya, saya memiliki hutang tiga buah tulisan kepada Anda. Saya pernah menjanjikan akan membahas tentang filsafat, fungsi rumah untuk pendidikan dan keberanian. Untuk pembahasan tentang filsafat, setelah saya pertimbangkan, tidak akan saya tulis di blog ini. Sebab, sudah banyak sekali pembahasan mengenainya oleh orang yang lebih berkompeten dari saya. Untuk Tulisan Fungsi Rumah Untuk Pendidikan, Insya Allah akan saya tulis dalam waktu dekat. Dan untuk keberanian, akan saya sisipkan sebuah pembahasan khusus mengenainya di dalam tulisan ini. O iya, saya (kai amroi) akan menulis tentang bagaimana belajar untuk lebih dewasa: Usia saya, sudah tidak bisa dikatakan remaja lagi. Anak saya sudah dua-sebentar lagi tiga, Insya Allah- Oleh sebab itu, mau tidak mau saya h
  • 6

    Sep

    Meminta Tolong

    Saya pernah membaca sebuah cerita anak. Cerita tentang seekor tikus kecil yang berusaha memetik buah apel. Sangat berat perjuangan yang dilakukan si tikus kecil untuk mendapatkan sebutir apel. Sementara, ada beberapa binatang lainnya, seperti burung, monyet, gajah, jerapah, dan lainnya yang dengan mudah mendapatkan sebutir apel. Si tikus berusaha meniru cara para binatang tersebut dalam mendapatkan apel, mulai dari ingin terbang seperti burung, ingin memanjat pohon seperti monyet, memanjangkan hidungnya agar seperti gajah, memanjangkan lehernya agar seperti jerapah dan lain sebagainya. Tapi kegagalan lah yang didapatkannya. Lalu, datanglah seekor anjing laut (atau singa laut?) dan si tikus menceritakan tentang kegagalannya. Si tikus kecil dan anjing laut akhirnya bekerjasama dan
  • 22

    Jul

    Alasan Mengalah

    Mendefinisikan sesuatu terkadang menjadi hal yang menyulitkan. Pikiran kita bersifat absurd dan susah untuk mengungkapkannya secara jelas. Oleh sebab itu, terkadang kita merasakan sesuatu yang kita tidak tahu apa itu. Nah, tugas seorang pemikir adalah mengungkapkan apa-apa yang susah diungkap itu. Sebenarnya kita semua adalah pemikir-pemikir kreatif yang mempunyai potensi untuk mengungkap berbagai rahasia pikiran. Hanya saja, kita kurang mengetahui ilmunya dan kurang belajar untuk itu. Sepertinya perlu untuk menjadi pemikir kreatif untuk mendefinisikan arti mengalah. Sebuah kalimat yang mempunyai arti berlawanan dengan kata dasarnya, yaitu kalah. Kata me- yang mendampingi kata kalah justru menjadikan artinya bukan lagi kalah, tapi menang. Kenapa menang? Sebab, kemenanganlah yang didapatka
  • 23

    May

    Kaya

    Setelah kurenungkan baik-baik hakikat kekayaan, Aku menemukan bahwa sebagian besar manusia itu kaya. Ternyata kekayaan terletak pada diri kita, Kita memiliki banyak sekali hal yang pastinya tidak akan mau kita tukar dengan berapa milyar rupiahpun. Kita memiliki mata, telinga, hidung dan masih banyak lagi. Kita memiliki keluarga, makanan untuk dimakan, tempat untuk berteduh dan masih banyak lagi. Kita memiliki hal yang juga dimiliki orang berharta. Perbedaan kita dengan orang berharta hanya terletak pada kualitas dan kuantitas. Padahal kekayaan terletak pada persoalan memiliki. Ketika kita memiliki sesuatu yang kita butuhkan itu disebut kaya.
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post