• 18

    Oct

    Secangkir Kopi Ozzy Osbourne

    Beberapa tahun yang lalu, saya pernah melihat acara The Osbourne yang menampilkan keseharian keluarga Ozzy Osbourne. Ada sebuah adegan yang sampai sekarang masih terbayang dalam benak saya, ketika sang bintang rock mengeluhkan gangguan tidur yang dialaminya kepada seorang psikiater. Ketika psikiater menyarankan untuk mengurangi kebiasaan minum kopi , jawaban Ozzy ini yang membuat saya geli; Saya sehari hanya minum satu cangkir kopi. Satu cangkir yang dia maksud adalah cangkir yang sangat besar, yang lebih besar dari mangkuk bakso. Ah, ada-ada saja. Walaupun tidak sampai seperti Ozzy, ternyata saya maniak kopi juga. Sehari minimal dua atau tiga cangkir kopi saya konsumsi. Memang ada penelitian yang menyatakan bahwa mengkonsumsi kopi mempunyai manfaat kesehatan, toh tetap ada batasan dalam
  • 4

    Jul

    Menoleh Ke Belakang

    Kupandangi stiker bergambar Pak Harto dengan tulisan: Piye kabare bro? Luwih enak jamanku Tho? [Bagaimana kabarnya bro? Lebih enak jamanku khan?] yang tertempel di bak truk yang melintas di depan motor yang saya kendarai. Walaupun tidak terlalu lama, saya sempat juga menikmati masa dipimpin oleh Pak Harto. Tapi jujur saja, saya kurang tahu apa kelebihan masa Pak Harto dengan masa setelahnya sehingga menyebabkan pembuat stiker itu menyatakan bahwa jaman Pak Harto lebih enak daripada jaman setelahnya. Justru dalam pandangan saya, masyarakat Indonesia sekarang lebih makmur. Lihat saja, hampir setiap rumah memiliki televisi dan sepeda motor. Sesuatu yang mewah pada masa remaja saya. Geliat perekonomian meningkat. Bisnis dan Properti tumbuh pesat. Kelas menengah bertambah. Sudah bukan kemewah
  • 4

    Jan

    Memulai Kembali dari Awal

    Pernahkah Anda mengerjakan sesuatu dengan sebaik-baiknya dan ketika hampir selesai, ada sesuatu yang menyebabkan pekerjaan tersebut hancur tak berbekas, dan Anda harus memulainya kembali dari awal? Saya pernah, contohnya pekerjaan saya beberapa waktu yang lalu. Saat mengetik pengantar untuk bisnis kecil saya. Saya menghabiskan waktu yang lumayan untuk mengetiknya di program Microsoft word, tapi tanpa disangka, saat pekerjaan hampir selesai, virus menyerang dan pekerjaan saya hilang tak berbekas. Dan saya harus memulainya lagi, dari nol. Tapi anehnya, hasil pekerjaan setelah saya memulainya kembali ternyata lebih baik dari pekerjaan yang telah hilang. Mungkin karena banyaknya penambahan hal baru (Anda bisa membacanya disini). Ini mengingatkan saya pada Victor Frankl, seorang neurolog dan p
  • 8

    Nov

    Berterimakasih

    Untuk orang yang benar-benar berjiwa tulus, ketika melakukan sesuatu tidak mengharapkan balasan apapun, kecuali dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak mengharapkan pujian ataupun ucapan terima kasih. Akan tetapi adab kita ketika mendapatkan bantuan dari orang lain (dalam konteks luas) adalah dengan berterima kasih, dengan ucapan lisan khususnya. Kita tidak perlu melihat, motif apa dibaliknya. Misalnya, seorang resepsionis yang melayani Anda karena memang begitu tugasnya, dan dia digaji untuk itu. Bagaimanapun juga, ada kebaikan atau bahkan mungkin kemudahan yang ia berikan untuk kita. Sebagai makhluk sosial, manusia saling membutuhkan. Ada saatnya kita harus membantu orang lain untuk memenuhi hajatnya. Tapi ada saatnya kita memerlukan orang lain untuk urusan kita. Nah, karena seti
  • 11

    Jul

    Bergotong-Royong

    Bagi Anda yang seusia dengan saya, mungkin ketika duduk di bangku SD sering mendapatkan pelajaran tentang sifat-sifat luhur bangsa Indonesia. Seperti; murah senyum, toleran dan suka bergotong-royong. Saya tidak tahu, apakah sifat bangsa kita benar-benar seperti itu. Tapi menurut saya, dengan diajarkannya hal-hal tersebut memberikan kita kepercayaan, bahwa kita sebenarnya seperti itu. Dan semoga, kita berusaha untuk bertindak seperti itu. Saya tidak tahu, apakah anak-anak jaman sekarang mendapatkannya. (Walaupun saya mempunyai anak yang sudah SD, tapi karena jarang membuka buku pelajaran PPKn-nya menjadikan saya kurang mengetahuinya). Padahal, terdapat banyak hal positif dengan diajarkannya hal tersebut. Apalagi sifat yang terakhir, yaitu suka bergotong-royong. Sifat suka bergotong-royong
  • 10

    Feb

    Sikap Tegas

    Beberapa kali isteri saya mengeluhkan sikap tetangga baru kami. Ya, setelah Pak Erwin mengajak pindah keluarganya, rumahnya dikontrak oleh sepasang kakek nenek dengan dua orang anaknya. Di usia yang relatif sepuh, keduanya belum memiliki rumah dan anak-anak mereka belum ada yang menikah (Sebenarnya sudah satu yang menikah, tapi cerai dan tinggal bersama orangtuanya). Untuk biaya hidup, mereka bergantung kepada anaknya yang satu lagi yang bekerja sebagai Satpam di luar kota, serta dari saudara si kakek. Sebagai tetangga, kami penghuni komplek berusaha sebaik-baiknya memperlakukan mereka. Misalnya, terkadang mengirimi mereka makanan, mengajak ngariung (kumpul-kumpul) bila ada acara, dan sebisa mungkin menghutangi mereka apabila meminjam uang. Termasuk keluarga saya, terkadang ketika beperg
- Next

Author

Follow Me

Search

Recent Post